Sunday, July 6, 2014

Tulin, The Earth Forest of Yunnan ( Part 1 )




Nenek moyang orang Indonesia berasal dari Yunan ? Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang fakta, bukti maupun argumentasi berkenaan dengan hal satu ini setelah beberapa dekade pada zaman orde baru opini ini disebar-luaskan lewat buku sejarah yang dipelajari di sekolah.

Yunan memang merupakan propinsi dengan jumlah suku terbanyak di Cina yakni 52 suku dan baik letak geografisnya maupun budaya masyarakatnya Yunan memang paling dekat dengan suku bangsa yang berada di Asia bagian tenggara. Masih dalam ingatan saya pada acara pembukaan SEA Games di Chiang Mai pada tahun 1995, diadakan pagelaran akbar tentang asal usul bangsa Asia Tenggara, di situ digambarkan terjadi migrasi secara besar-besaran dari propinsi Yunan masuk lewat daratan yang kini dikenal sebagai Thailand lalu menyebar hingga ke seluruh kawasan di Asia Tenggara.

Jika anda menanyakan hal ini kepada om Google, ternyata ada beberapa ahli memiliki argumentasi yang berbeda-beda. Lalu pentingkah hal ini ? Tentu bukan kapasitas saya untuk membahasnya di sini, yang ingin saya bagikan dengan anda di sini tentu soal keindahan alam di Yunan, tentang sepenggal cerita perjalanan saya menjelajah sebuah tempat unik yang belum banyak dikenal di kalangan pencinta alam di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.

Yunan dalam ejaan China dituliskan menjadi Yunnan yang terdiri dari 2 suku kata, Yun_Nan. Yun berarti awan dan Nan berarti selatan. Maksud dari penjabaran kata Yunnan ini tentu tidak ada kaitannya dengan tempat yang saya jelajahi kali ini, ini hanya sebuah penjelasan tentang perbedaan cara menulis kata Yunan antara kita dan negara asal.

Minimnya informasi yang saya peroleh membuat persiapan perjalanan kali ini sedikit terganggu meski demikian saya tetap memutuskan pergi. Gambaran tentang rute perjalanan sebenarnya masih samar-samar dan hanya sekitar 50% informasi di tangan namun tekad sudah bulat. Perinsip saya sederhana saja yakni " jalan ada di mulut ".


Tiba di Kunming ibukota propinsi Yunan sekitar pukul 2.30 siang. Informasi yang saya peroleh di internet tentang rute bus maupun jarak tempuh dari airport Kunming menuju stasiun kereta utama di tengah kota ternyata sudah kadaluarsa. Airport yang baru berlokasi di pinggiran kota Kunming ternyata sudah beroperasi lebih dari setahun yang lalu dan tidak ada lagi bis no 52 maupun no 67 sebagaimana yang diinformasikan di internet. Jarak dan waktu tempuh pun menjadi lebih jauh dan lama. Saya mulai  tidak tenang karena ticket kereta sudah saya beli via online dan kereta akan berangkat tepat waktu pada pukul 16.50. Waktu yang tersisa kurang dari 2 jam, saya berusaha tenang dan berdoa sembari mencari shuttle bus yang melayani rute stasiun.

Untung shuttle bus no 2 menuju Kunming station dan akan segera berangkat, saya berlari sekuat tenaga menuju loket membayar 25 Yuan dan berlari menghampiri bus itu. Hmm.....thanks God, sudah aman saya pikir dalam hati. Namun keadaannya berubah menjadi galau saat shuttle bus keluar dari jalan tol dan masuk ke jalan utama di kota Kunming, alamak lalu lintasnya padat dan macet, hampir tidak bergerak karena sedang ada perbaikan jalan. Keringat saya bercucuran sebesar-besar biji jagung dan kali ini saya hanya bisa pasrah.

Singkat cerita saat turun dari bus saya hanya memiliki sisa waktu 15 menit. Saya sudah tidak berharap banyak tetapi masih tetap berusaha. Setelah berlari sekuat tenaga menuju loket pengambilan ticket saya bak seorang pelari sprinter hanya bedanya saya harus naik turun tangga sambil menggendong backpack serta menenteng kamera. Masuk gerbong no 13 yang terletak paling ujung, nafas saya ngos-ngosan bagaikan seekor ikan mas koki yang tak henti-hentinya membuka tutup mulutnya. Ini adalah sebuah pengalaman berharga bahwa informasi di internet juga bisa kadaluarsa, wajib perhatikan tanggal postingnya.

Berbicara tentang Yunan, barangkali anda langsung ingat nama Shangrila, Lijiang, Dali, dan Shilin Stone Forest. Namun obyek yang akan saya ajak anda untuk melihat lewat lensa kamera saya kali ini adalah desa-desa yang selama ini tidak banyak diekspos, sehingga informasi untuk mencapai daerah itu masih tergolong minim.










( ......bersambung )

http://johntravelonearth.blogspot.com/2014/07/tulin-earth-forest-of-yunnan-part-2.html


 







No comments:

Post a Comment